PEMAHAMAN MENGENAI PSIKOLOGI KAPITAL DAN MENELAAH KASUS DARI PSIKOLOGI CAPITAL DI INDONESIA
Psikologi merupakan bidang ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari, karena erat kaitannya dengan perilaku manusia. Psikologi itu sendiri merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari tentang perilaku, fungsi mental dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Seseorang yang melakukan praktik psikologis bisa disebut sebagai psikolog. Cabang-cabang dari ilmu psikologi itu banyak ada psikologi sosial, psikologi keperibadian, psikologi pendidikan dan masih banyak lagi. Namun disini saya akan membahas mengenai cabang ilmu dari psikologi yaitu Psikologi Kapital.
Definisi dari Psikologi Kapital (Psychological Capital)
Menurut Luthans (2007) Psychology Capital adalah kondisi perkembangan positif seseorang dan dikarakteristikan memiliki kepercayaan diri (self efficacy) untuk menghadapi tugas-tugas yang menantang dan memberikan usaha yang cukup untuk sukses dalam tugas-tugas tersebut. Membuat sebuah atribusi yang positif (optimism) tentang kesuksesan di masa kini dan masa depan, serta tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan atau hope dan ketika dihadapkan pada situasi sulit apapun dan halangan dapat bertahan dan kembali (resiliency).
Self efficacy.
Albert Bandura (1997) mendifinisikan Self efficacy sebagai: ”Keyakinan atau rasa percaya diri seseorang tentang kemampuannya untuk mengerahkan motifasinya, kemampuan kognitifnya, serta tindakan yang diperlukan untuk melakukan dengan sukses dengan tugas tertentu dalam konteks tertentu” (Stajkovic & Luthans, 1998). Meskipun Bandura (1997) menggunakan istilah Self-efficacy dan kepercayaan diri secara berdampingan. Kebanyakan teori efficacy meletakkan konsep kepercayaan diri di bawah Self efficacy. Pada Psikologi positif, kedua istilah dapat digunakan secara bergantian (Maddux, 2002). Terlebih lagi apabila, kepercayaan diri diterapkan pada bidang yang lebih aplikatif pada bidang olahraga atau performa bisnis. Pada modal psikologis atau psycap, kedua istilah tersebut didapat saling menggantikan untuk merefleksikan kekayaan teori dan basis penelitian Self-efficacy (Bandura,1997).
Hope
Hope digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.Namun, sebagai kekuatan psikologis, terjadi banyak salah persepsi tentang hope itu sebenarnya dan apa karakteristik dari individu, kelompok atau organisasi yang memiliki hope. Banyak yang
mencampur adukkan istilah hope dan wishfull thingking. C. Rick Snyder (dalam Snyder, Irving & Anderson 1991) mendefinisikan hope sebagai keadaan psikologis positif yang didasarkan pada kesadaran yang saling mempengaruhi antara: agency (energi untuk mencapai tujuan), path ways (perencanaan untuk mencapai tujuan).
Optimisme.
Suatu explanatory style yang memberikan atribusi peristiwa-peristiwa positif pada sebab-sebab yang personal, permanent, serta pervasive dan menginterpretasikan peristiwaperistiwa negatif pada faktor-faktor yang eksternal, sementara, serta situasional. Sebaliknya, explanatory style yang pesimistis akan menginterpretasikan peristiwa positif dengan atribusi-atribusi yang eksternal, Sementara, serta situasional dan mengatribusi peristiwa negatif pada penyebab yang personal, permanent dan pervasive (Seligman, 1998).
Resillency.
Masten dan Reed (2002) mendefinisikan resiliency sebagai kumpulan fenomena yang dikarakteristikkan oleh pola adaptasi positif pada kontek keterpurukan. Dalam pendekatan psychological capital definisi ini diperluas, tidak hanya kemampuan untuk kembali dari situasi keterpurukan namun juga kegiatan-kegiatan yang positif dan menantang, misalnya target penjualan, dan kemauan untuk berusaha melebihi normal atau melebihi keseimbangan. Resiliency adalah kemampuan individu dalam mengatasi tantangan hidup serta mempertahankan energi yang baik sehingga dapat melanjutkan hidup secara sehat.
Menurut Abrorry & Sukamto (2013) Psikologi kapital adalah suatu pendekatan yang dicirikan pada dimensidimensi yang bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki individu sehingga bisa membantu kinerja organisasi.
Avey, Youssef, dan Luthans (2008) menjelaskan bahwa karakteristik yang membangun psikologi kapital saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga konstruk ini lebih baik diukur sebagai satu kesatuan.
Selain definisi dari psikologi kapital, kita juga akan membahas mengenai kasus dari psikologi kapital itu sendiri karena psikologi kapital berkaitan dengan kepercayaan diri seseorang di masa ini dan masa yang akan datang.
Kasus Psikologi Kapital pada seorang Karyawan di Perusahaan
Pendekatan dari sisi psikologis seorang karyawan merupakan sesuatu yang cukup penting ditinjau untuk mengatasi berbagai permasalahan karyawan dalam perusahaan selain dengan berbagai kebijakan sistem kerja, salah satu konsep psikologi yang akan dimaksud adalah psikologi kapital.
Psikologi kapital seorang karyawan menjadi penting karena dapat memprediksi kecenderungan serta kenyamanan seorang karyawan yang membuat karyawan itu sendiri bisa tidak betah dalam bekerja di perusahaan tersebut Semakin tinggi psikologi kapital seorang individu maka semakin rendah kecenderungan pindah kerja yang dimilikinya (Avey, Luthans & Jensen, 2009), dan jika semakin rendah tingkat psikologi kapital itu sendiri maka akan mempermudah karyawan dalam pindah pekerjaan. Psikologi kapital juga sangat penting dimiliki setiap karyawan karena dengan psikologi kapital yang tinggi karyawan memiliki energi dalam usaha untuk memberikan loyalitas hingga bekerja secara maksimal. Hal ini karena tingginya self efficacy yang dapat diaplikasikan dalam usaha untuk mencapai tujuan pekerja, dan mereka percaya dapat mencapai tujuan (goal) yang karyawan itu inginkan. Secara meyeluruh psikologi kapital memiliki manfaat yaitu :
1. Dapat memfasilitasi motivasi dari intensi tingkah laku untuk sukses
2. Dapat memenuhi tujuan dan mengarahkan tugas.
3. Dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik, pada individu dengan psikologi kapital yang tinggi daripada individu dengan psikologi kapital yang rendah.
Maka dari itu perlu diadakannya program yang membuat seorang karyawan di dalam perusahaan itu merasa nyaman dan sejahtera serta dapat menguatkan self efficacy karyawan tersebut hingga bisa mengeluarkan effort yang maksimal juga untuk kemajuan perusahaan.
Sumber :
Pratiwi, Elysa Indah. 2018. "Hubungan Psikologi Kapital Dengan Kecenderungan Pindah Kerja Karyawan PTPN X PG Tjoekir Jombang. Skripsi Jurusan Psikologi. Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Hal. 1 - 10.