KETERKAITAN EQ,SQ,AQ SERTA CQ DENGAN IMPLEMENTASI DI DUNIA KERJA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dalam menghadapi dunia kerja, perusahaan tidak hanya membutuhkan kepintaran intelegen (IQ) seorang karyawannya saja, tapin ada faktor-faltor pendukung lain yang membuat karyawan itu kompeten dan bisa diterima diperusahaan manapun. Faktor-faktor yang paling menentukan dalam kesuksesan seseorang di dunia kerja berkaitan dengan EQ, SQ, AQ dan CQ. Kesuksesan tidak sama dengan istilah dari kecerdasan, namun di sini pemaknaan dari istilah kecerdasan kognisi yaitu Intelligence Quotient (IQ). Jadi
kecerdasan kognisi saja tidak cukup untuk membuat bangsa ini maju. Dibutuhkan orang-orang
yang tidak hanya sekedar pintar secara kognisi melainkan juga memiliki jenis-jenis kecerdasan
lain. Ada beberapa gagasan kecerdasan yang sudah dipublikasikan di antaranya IQ (kecerdasan
kognisi), EQ (kecerdasan emosi), SQ(kecerdasan spiritual), AQ(kecerdasan menghadapi kesulitan),
CQ(kecerdasan kreatif), dan BQ(kecerdasan biomagnetik). Terdapat satu lagi kecerdasan yaitu QQ
(kecerdasan quantum) tapi baru sebatas visi.
Tapi dari semua itu, yang sudah memiliki alat ukur
yang terstandarisari saat ini baru dua yaitu IQ, EQ, dan AQ, namun disini kita akan fokus menghubungkan keterkaitan kecerdasan EQ,SQ,AQ serta CQ dengan implementasinya di dunia kerja.
EQ ( Kecerasan Emosi )
EQ (Emotional Quotient) adalah kemampuan pengendalian diri sendiri, semangat dan
ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi
frustasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebihlebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak
melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain, dan
berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya kemapuan untuk
menyelesaikan konflik, serta memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.
Walters berpendapat bahwa hanya dengan perasaan batin yang tenang, seseorang mampu mengetahui secara pasti arah yang harus diambil. mereka yang mengarahkan hiduo mereka dari tataran perasaan yang lebih dalam ini mencapai tingkat-tingkat keberhasilan yang tak permah dicapai oleh orang-orang yang membatasi pencarian mereka akan jawaban-jawaban terhadap penggunaan akal budi.
Di samping itu, Gardner membagi kecerdasan emosional (EQ) atas dua kecakapan:
pertama, intrapersonal intelligence (kecakapan mengenali perasaan diri sendiri) yang terdiri dari;
[a]. kesadaran diri, meliputi: keadaan emosi diri, penilaian pribadi, percaya diri;
[b]. pengaturan diri, meliputi; pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif, inovatif;
[c]. motivasi, meliputi; dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif, optimis.
Kedua, interpersonal intelligence (kecakapan mengenai perasaan dengan orang lain) yang terdiri dari; [a]. empati, meliputi; memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis;
[b]. keterampilan sosial, meliputi; pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja tim
SQ (Kecerdasan Spiritual)
SQ (Spiritual Quotient) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang
membangun dirinya secara utuh. Kecerdasan spiritual berasal dari hati, yang membuat
individu menjadi kreatif ketika dihadapkan oleh masalah pribadi dan mencoba melihat
makna yang terkandung di dalamnya.
kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego dan jiwa sadar. Hal utama dalam kecerdasan spiritual adalah pengenalan akan kesejatian diri manusia. Kesadaran spiritualitas bukan sebatas ajaran teologis. Dengan kata lain, kecerdasan spiritual itu sesungguhnya mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaannya.
Hakikat manusia dapat ditemukan dalam perjumpaan dengan apa pun. Misalnya, saat berkomunikasi pada saat salat. Oleh karena itu, ada yang berpandangan bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan Tuhan.
Menurut Samani, SQ merupakan pemandu IQ dan EQ, yakni memandu bagaimana IQ dan EQ dikembangkan dan diimplementasikan dalam sebuah kehidupan. Sehingga dengan demikian, Luneto menyatakan bahwa SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri manusia.
AQ (Kecerdasan Menghadapi Kesulitan)
AQ (Addervisity Quotient) adalah kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk bertahan
menghadapi kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup.
AQ berupaya
memaksimalkan kemampuan akal
fikir dan usaha
untuk memperoleh keberhasilan. AQ memasukkan IQ dan EQ dari setiap
konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan
penerapannya di dunia
nyata (Thoyib, 2005).
Salah satu aspek kecerdasan AQ adalah kecerdasan untuk
mengatasi kesulitan. AQ merupakan penilaian yang mengukur
respon seseorang dalam
menghadapi perubahan atau
masalah untuk dijadikan peluang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi AQ
adalah daya saing, produktivitas, kreativitas,
motivasi, kesiapan menghadapi
resiko, ketekunan, adaptasi, dan
keuletan (Stoltz, 2004). Adversity Quotient dan
motivasi kerja adalah
faktor yang berpengaruh dalam
upaya meningkatkan kinerja mahasiswa. Motivasi adalah dorongan psikologis
melibatkan gerakan fisik dan mental dan mempengaruhi seseorang mencapai
tujuan. Dalam kata lain Adversity Quotient (AQ)
merupakan suatu penilaian
yang mengukur bagaimana seseorang da-lam menghadapi masalah untuk dapat
diberdayakan menjadi peluang.
d.
CQ (Kecerdasan Kreatif)
CQ (Creativity Quotient) adalah potensi seseorang untuk membuat penemuan baru dalam
bidang ilmu dan teknologi serta semua bidang lainnya.
CQ Kecerdasan
Kreativitas (Creativity Quotient)
Potensi seseorng untuk memunculkan sesuatu
yang penemuan-penemuan baru
dalam mencari solusi
suatu permasalahan serta semua
bidang dalam usaha
lainnya. Guil Ford
mendeskripsikan 5 ciri kreativitas:
a. Kelancaran : Kemampuan memproduksi banyak ide.
b. Keluwesan
: Kemampuan untuk
mengajukan bermacam-macam pendekatan jalan pemecahan masalah.
c. Keaslian : Kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinil sebagai hasil
pemikiran sendiri.
d. Penguraian : Kemampuan menguraikan sesuatu secara
terperinci.
e. Perumusan Kembali
: Kemampuan untuk
mengkaji kembali suatu
persoalan melalui cara yang
berbeda dengan yang sudah lazim.
Kreativitas
terdiri dari dua unsur :
a.
Kepasihan (kemampuan menghasilkan
sejumlah gagasan dan
ide prmecahan masalah dengan
lancar).
b. Keluwesan (Kemampuan
untuk menemukan gagasan
yang berbeda dan
luar biasa untuk memecahkan suatu masalah)
Hambatan untuk
menjadi kreatif antara
lain: kebiasaan, waktu,
dibanjiri masalah, tidak ada
masalah, takut gagal,
kebutuhan akan sebuah
jawaban sekarang, kegiatan mental
yang sulit diarahkan, tahut bersenang-senang, dan suka mengkritik orang lain.
Implementasinya dalam dunia bisnis adalah jika kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup, hal ini penting mengingat IQ saja tidak menjamin keberhasilan hidup seseorang, demikian juga kalau haya sekedar SQ dan EQ tidak akan mampu mendukung keberhasilan hidup seseorang secara utuh, material dan spritual. Dalam dunia bisnis lebih dibutuhkan kecerdasan secara keseluruhan dari EQ,SQ,AQ dan CQ guna individu tersebut dapat menajankan bisnisnya dengan stabil dan bagi seorang karyawan bisa menjadi karyawan yang sukses, karena individu yang mampu mengendalikan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kecerdasan meghadapi kesulitan dan kecerdasan kereativitas menjadikan individu tersebut dapat bersaing di dunia bisnis.
sumber :
A. Augustiner Handy. 2017. "Adaptasi Dalam Dimensi Smart People (Studi Kasus: Rusunawa Kaligawe Semarang)". Hal. 151-160.
Shofwan,Arif Muzayin. 2015. "Character Building Melalui Pendidikan Agama Islam (studi kasus di Miftahul Huda Papungan 01 Blitar)". Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman.Vol.10, No.1. Hal.175-198.
P. Charlina dkk. 2019. "Teori Kecerdasan Dalam Menghadapi Masalah Kesulitas Finansial Untuk Menyelesaikan Tunggakan Biaya Kampus". Hal. 1-12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar