-GRIT PADA KARYAWAN-
Dalam dunia kerja, para karyawan dituntut untuk bisa bekerja secara profesional dan optimal. persaingan dalam dunia kerja seperti promosi jabatan, nai pangkat dll tidak bisa diabaikan oleh para karyawannya, maka dari itu karyawan berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan itu dengan cara bersaing satu sama lain, siapa yang berkompeten dialah yang terpilih. namun tidak sampai disitu saja, para karyawan harus bekerja keras penuh dengan ketekunan dan semangat "Grit". Akan tetapi Grit tidak berlaku bagi karyawan yang melakukan tindakan yang salah. "Jika anda tidak akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, anda sebaiknya berhenti", itulah yang dikatakan penulis buku Seth Godin yang menunjukan dalam bukunya "The Dip : The Extradionary Benefits of Knowing When to Quit (and when to stick)". Maka dari itu disini saya akan membahas mengenai GRIT.
Apa itu Grit?
Grit pertama kali didefinisikan sebagai ketekunan (perseverance) dan semangat (passion) dalam mencapai suatu tujuan jangka panjang. (Duckworth, Peterson, Matthews, & Kelly, 2007). Duckworth sendiri mengatakan dari beberapa penelitian yang telah dilakukannya menunjukan bahwa sifat ini mungkin lebih relevan daripada kecerdasan dalam menentukan pencapaian tinggi seseorang. Grit bukan hanya sekedar bekerja keras, tapi usaha yang panjang untuk mendapatkan sesuatu. Angela Duckworth mengatakan bahwa kepribadian Grit berkaitan dengan "Growth Mindset", dimana Growth Mindset sendiri merupakan sebuah pola pikir untuk terus tumbuh, berani menerima tantangan dan senang belajar akan hal-hal baru diluar zona nyamannya. Grit memiliki manfaat jika kita terapkan baik di tempat kerja maupun dikehidupan sehari-hari.
Grit dalam psikologi adalah, sifat non-kognitif positif berdasarkan semangat individu untuk tujuan jangka panjang, ditambah dengan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan masingmasing. Ketahanan dalam berusaha mengatasi hambatan atau tantangan untuk mencapai hasil yang diinginkan dan berfungsi sebagai kekuatan pendorong dalam pencapaian.
Dimensi dari GRIT :
Terdapat dua dimensi dari konstruk ini, yaitu :
a) Perseverance of effort
yaitu sebuah ketekunan untuk menyelesaikan suatu tujuan, bahkan dengan adanya berbagai rintangan atau halangan.
b) Consistency of Interests
yairu tetap berkomitmen pada minatnya yang akan mengarahkan pada tercapainya suatu tujuan.
Faktor-faktor Menumbuhkan Grit dari Internal
Angela Duckworth menulis dalam bukunya ada 4 elemen vital dari dalam dir kita yang akan
membuat kita bisa merawat grit dalam segenap raga kita.
a. Passion. Menurut Angela Duckworth, kita tak akan mungkin mampu bertahan dan berjuang
menghadapi masalah yang besar, jika kita tidak mencintai apa yang kita kerjakan.
b. Practice. Latihan yang dimaksud adalah dengan menjamin kualitas waktu latihan yang
digunakan. Latihan terus menerus harus dilakukan tanpa mengenal lelah.
c. Purpose. Kita akan menjadi lebih punya grit ketika dibalik yang anda kerjakan mempunyai
tujuan yang jelas. Dengan itu, kita akan lebih bisa bertahan dalam berjuang.
d. Hope. Grit hanya akan tumbuh jika kita merasa punya harapan bahwa apa yang kita
kerjakan akan berhasil. Banyak orang yang menyerah karena merasa tidak punya harapan
akan berhasil. Solusi untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan menyusun “small and
quick wins” atau sejenis “small goals” yang bisa diraih selama kita sedang berjuang.
Harapan akan bisa terus ada ketika anda punya small goals yang mudah untuk diraih.
Faktor-Faktor Menumbuhkan Grit dari Eksternal
Angela Duckworth juga menulis dalam bukunya ada 4 faktor dari eksternal untuk
menumbuhkan grit dalam diri kita.
a. Parenting for Grit. Peran orang tua cukup penting dalam membimbing anaknya dalam
menumbuhkan grit dalam dirinya.
b. The Playing Fields. Dalam menumbuhkan grit kita tidak hanya belajar di bidang akademis
saja, tetapi juga harus belajar di bidang non akademis.
c. A Culture of Grit. Bagaimana kamu menciptakan kultur grit dalam diri kamu adalah
seberapa besar kamu berpeluang untuk meraih kesuksesan yang kamu inginkan.
Cara Mengukur Grit
Tahun 2016, Angela Duckworth kembali memunculkan grit dalam sesi TED Talks nya.
Menurutnya, seseorang bisa menjadi sukses besar dalam pencapaian gol nya karena dia
memiliki grit yang sangat besar.
Ada beberapa cara untuk mengukur grit dalam diri kita, yaitu:
a. Courage (Kebranian). Kebranian yang dimaksud adalah seberapa besar kemampuan kita
mengontrol ketakutan atau kegagalan kita.
b. Conscientiousness (kesadaran diri). Untuk mencapai kesadaran diri butuh fokus dan
konsentrasi tingkat tinggi yang dapat menjadi faktor utama bagi kita dalam memutuskan
tindakan dengan cepat dan sesuai kebutuhan. Seringkali pikiran kita terganggu dengan halhal lain yang tidak berhubungan tetapi sangat mengganggu.
Contohnya trauma masa lalu,
keluarga, keuangan, permasalahan di kantor dan lainnya. Salah satu cara untuk melatih
kesadaran diri kita adalah dengan membaca buku dengan suara keras atau belajar
menyanyikan lagu yang susah untuk dinyanyikan.
c. Long-term goals and Endurance (Gol Jangka Panjang dan Ketahanan). Kita harus membuat
gol dalam jangka panjang yang jelas dan spesifik. Bagi yang sudah memilikinya, apakah gol
itu masih menarik untuk kita. Besarnya endurance (daya tahan) untuk tetap fokus
tergantung dari seberapa konsisten Anda untuk berusaha dan melatih kemampuan diri.
Angela Duckworth mengatakan bahwa pencapaian itu adalah hasil penggabungan antara
talenta (skills) dan usaha.
d. Resilience (Ketahanan). Ketahanan dapat dicapai dengan tiga faktor yaitu Optimis, Percaya
Diri dan Kreativitas
e. Excellence vs Perfection (Mutu Tinggi vs Kesempurnaan). Kita harus menerima kekecewaan
dan kegagalan karena dengan hal tersebut kita memiliki pengukuran pasti untuk prioritas
strategi perbaikan ke arah yang lebih baik.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Grit
Menurut Duckworth (2007) faktor-faktor yang berhubungan dengan kegigihan (grit) adalah
sebagai berikut:
a. Pendidikan, dimaknai sebagai orang yang telah berpendidikan yang memilki kegigihan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang kurang berpendidikan pada usia yang sama.
b. Usia, dimaknai dengan orang usia dewasa memiliki kegigihan yang lebih dengan orang
berusia muda. Hal ini dikarenakan orang yang telah tua memiliki pengalaman untuk
menghadapi tantangan.
c. Conscientiouness, yaitu berhubungan dengan pilihan untuk berpindah karir pada seseorang.
Orang yang memiliki conscientiouness, usia dan pendidikan tinggi 35% lebih kecil
kemungkinannya berpindah karir. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
faktor yang berhubungan dengan kegigihan meliputi pendidikan, usia dan konsitensi.
d. Di dalam buku Grit (Angela Duckworth) diungkapkan contoh orang-orang penting dan yang
telah sukses pada bidangnya, bagaimana mereka mengungkapkan proses untuk meraih
sukses mereka sendiri, bagaimana mereka menciptakan potensi mereka, bagaimana
mereka mempengaruhi sekaligus dipengaruhi sekitar untuk mengembangkan
kemampuannya.
Kesimpulannya, Grit
diikuti dengan bekerja keras dalam menghadapi tantangan, mempertahankan usaha dan kepentingan
jangka panjang meskipun dihadapkan pada resiko untuk gagal, tantangan, dan kesulitan pada
prosesnya (Duckworth, 2016). Seorang dengan grit yang tinggi lebih berhasil dalam pekerjaan
dibandingkan dengan yang memiliki grit rendah. Individu dengan derajat grit yang tinggi akan lebih tekun dalam
bekerja, tidak mudah menyerah jika mengalami kegagalan, bahkan dapat menjadikan kegagalan
sebagai cambuk untuk semakin berusaha mencapai tujuan.
Sumber :
Jonathan, Haris dan Alvin Handiworo. 2020. "Tempat Pengembangan Grit", Jurnal Stupa. Vol.2, No. 2, Hal.2067-2078.
Meadows Martin. 2015. "Grit: How to Keep Going When You Want to Give Up". Meadows Publishing.
Tiara, Stella dan Rostiana. 2018. "Peran Kualitas Kehidupan Dan Grit Terhadap Keterkaitan Kerja Pada Generasi Millenial Di Industri Perbankan". Jurnal Muara. Vol. 2, No, 1. Hal. 342-249.