Selasa, 24 November 2020

GRUP & TIM KERJA

GRUP DAN TIM KERJA 


Dalam dunia kerja, para Sumber Daya Manusia memiliki keterkaitan dalam bekerja, terutama dalam membentuk teamwork guna menunjang dan menjalankan efektivitas kerja yang baik. pekerjaan akan terasa lebih ringan jika dikerjakan dengan timkerja, seperti divisi marketing yang memiliki teamwork untuk menjalankan strategi jobnya supaya mencapai target yang sudah ditetapakn oleh perusahaan. Grup maupun tim kerja (team work) dapat memengaruhi output yang dihasilkan dalam perusahaan atau teamwork yg berjalan dnegan baik, maka output yang dihasilkan juga akan baik. Disini kita akan membahas mengenai grup atau tim kerja (team work). 

kita tahu bahwa grup dan tim dalam peursahaan itu sangat berkaitan satu dengan yang lainnya. Jika Grup berkaitan dengan sekumpulan SDM yang memiliki karakteristik berbeda dan dapat juga memfasilitasi OCB (Organizational Citizenship Behavior) yaitu perilaku individu yang ekstra secara tidak langsung atau eksplisit dapat dikenal dalam suatu sistem kerja yang formal, dan secara agregat mampu meningkatkan efektivitas fungsi organisasi. Sementara Tim, merupakan sekelompok SDM yang saling memiliki ketergantungan yang tinggi untuk mencapai tujuan tertentu atau tugas tertentu untuk diselesaikan secara bersama. 

Karakteristik Grup :

- memfasilitasi kepercayaan dan kepuasan serta keinginan untuk tetap dalam kelompok

-  melakukan pertukaran anggota tim

-  memengaruhi motivasi dan kekompakan kelompok 

-  menciptakan sinergi dan kerjasama 

-  memberikan perhatian satu sama lain dalam grup

karaktertik tersebut dapat mengarahkan pada peningkatan OCB (yang diarahkan oleh rekan kerja dalam grup) terutama jika organisasi berorientasi pada kelompok kerja dan tim.


Karakteristik Tim :

- memiliki tujuan yang jelas

- fokus pada pencapaian hasil 

- memiliki rencana untuk mencapai tujuan 

- pembagian peran dan tanggungjawab yang jelas

- berkomitmen mencapai tujuan bersama

- memiliki anggota tim yang kompeten

- kemampuan interpersonal diantara anggota tim

Tim juga adalah bagian dari grup kecil dengan orang-orang yang memiliki keterampilan yang saling melengkapi yang berkomitmen untuk tujuan bersama, sasaran kinerja dan pendekatan-pendekatan yang mereka jadikan sebagai tanggung jawab bersama. selanjutnya, teamwork menyatakan upaya kooperatif dan korrdinasi oleh individu yang bekerjasama dalam suatu kumpulan dari latar belakang umum. hal ini membutuhkan pembagian bakat dan kepemimpinan memainkan peran ganda.

Tak jarang orang awam mempresepsikan antara teamwork dan workgroup adalah sama. padahal secara filosofi terdapat perbedaan mendasar diantara keduanya, seperti : 


Kelompok Kerja (Workgroup)

- Memiliki pemimpin yang kuat dan terfokus 

- Memilki akuntabilitas individu

- Tujuan kelompok kerja sama dengan organisasi 

- Memiliki hasil kerja individu 

- Melakukan pertemuan yang efisien

- Mengukur efektivitas secara tidak langsung (Contoh; Kinerja keuangan bisnis)

- Mendiskusikan, memutuskan, dan mendelegasikan 



 Kerja Tim (Teamwork)

Memiliki peran kepemimpinan bersama

- Memiliki akuntabilitas individu dan bersama 

- Memiliki tujuan khusus

- Memiliki hasil kerja efektif

- Melakukan pertemuan dengan penyelesaian terbuka dan pemecahan masalah yang aktif

- Menggukur kinerja secara langsung dengan memperkirakan hasil kerja kolektif

- Mendiskusikan, memutuskan dan melaksanakan






Sumber :

Arizona,Rizki. 2018."Peran Team Work Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Karyawan Pada PT. Asuransi Sinarmas Cabang Malang". Jurnal Aplikasi Administrasi. Vol.20, No.1. Hal.52-60.

https://www.slideshare.net/wicaksana/organizational-citizenship-behavior-ocb-119391736

Ju

Selasa, 17 November 2020

GRIT

  -GRIT PADA KARYAWAN-

Dalam dunia kerja, para karyawan dituntut untuk bisa bekerja secara profesional dan optimal. persaingan dalam dunia kerja seperti promosi jabatan, nai pangkat dll tidak bisa diabaikan oleh para karyawannya, maka dari itu karyawan berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan itu dengan cara bersaing satu sama lain, siapa yang berkompeten dialah yang terpilih. namun tidak sampai disitu saja, para karyawan harus bekerja keras penuh dengan ketekunan dan semangat "Grit". Akan tetapi Grit tidak berlaku bagi karyawan yang melakukan tindakan yang salah. "Jika anda tidak akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, anda sebaiknya berhenti", itulah yang dikatakan penulis buku Seth Godin yang menunjukan dalam bukunya "The Dip : The Extradionary Benefits of Knowing When to Quit (and when to stick)". Maka dari itu disini saya akan membahas mengenai GRIT. 


Apa itu Grit?

Grit pertama kali didefinisikan sebagai ketekunan (perseverance) dan semangat (passion) dalam mencapai suatu tujuan jangka panjang.  (Duckworth, Peterson, Matthews, & Kelly, 2007). Duckworth sendiri mengatakan dari beberapa penelitian yang telah dilakukannya menunjukan bahwa sifat ini mungkin lebih relevan daripada kecerdasan dalam menentukan pencapaian tinggi seseorang. Grit bukan hanya sekedar bekerja keras, tapi usaha yang panjang untuk mendapatkan sesuatu. Angela Duckworth mengatakan bahwa kepribadian Grit berkaitan dengan "Growth Mindset", dimana Growth Mindset sendiri merupakan sebuah pola pikir untuk terus tumbuh, berani menerima tantangan dan senang belajar akan hal-hal baru diluar zona nyamannya. Grit memiliki manfaat jika kita terapkan baik di tempat kerja maupun dikehidupan sehari-hari. 

Grit dalam psikologi adalah, sifat non-kognitif positif berdasarkan semangat individu untuk tujuan jangka panjang, ditambah dengan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan masingmasing. Ketahanan dalam berusaha mengatasi hambatan atau tantangan untuk mencapai hasil yang diinginkan dan berfungsi sebagai kekuatan pendorong dalam pencapaian. 


Dimensi dari GRIT :

Terdapat dua dimensi dari konstruk ini, yaitu :

a) Perseverance of effort

    yaitu sebuah ketekunan untuk menyelesaikan suatu tujuan, bahkan dengan adanya berbagai rintangan atau halangan.

b) Consistency of Interests 

    yairu tetap berkomitmen pada minatnya yang akan mengarahkan pada tercapainya suatu tujuan.


Faktor-faktor Menumbuhkan Grit dari Internal 

Angela Duckworth menulis dalam bukunya ada 4 elemen vital dari dalam dir kita yang akan membuat kita bisa merawat grit dalam segenap raga kita.

a. Passion. Menurut Angela Duckworth, kita tak akan mungkin mampu bertahan dan berjuang menghadapi masalah yang besar, jika kita tidak mencintai apa yang kita kerjakan. 

b. Practice. Latihan yang dimaksud adalah dengan menjamin kualitas waktu latihan yang digunakan. Latihan terus menerus harus dilakukan tanpa mengenal lelah. 

c. Purpose. Kita akan menjadi lebih punya grit ketika dibalik yang anda kerjakan mempunyai tujuan yang jelas. Dengan itu, kita akan lebih bisa bertahan dalam berjuang.

d. Hope. Grit hanya akan tumbuh jika kita merasa punya harapan bahwa apa yang kita kerjakan akan berhasil. Banyak orang yang menyerah karena merasa tidak punya harapan akan berhasil. Solusi untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan menyusun “small and quick wins” atau sejenis “small goals” yang bisa diraih selama kita sedang berjuang. Harapan akan bisa terus ada ketika anda punya small goals yang mudah untuk diraih. 


Faktor-Faktor Menumbuhkan Grit dari Eksternal 

Angela Duckworth juga menulis dalam bukunya ada 4 faktor dari eksternal untuk menumbuhkan grit dalam diri kita. 

a. Parenting for Grit. Peran orang tua cukup penting dalam membimbing anaknya dalam menumbuhkan grit dalam dirinya. 

b. The Playing Fields. Dalam menumbuhkan grit kita tidak hanya belajar di bidang akademis saja, tetapi juga harus belajar di bidang non akademis. 

c. A Culture of Grit. Bagaimana kamu menciptakan kultur grit dalam diri kamu adalah seberapa besar kamu berpeluang untuk meraih kesuksesan yang kamu inginkan.


Cara Mengukur Grit 

Tahun 2016, Angela Duckworth kembali memunculkan grit dalam sesi TED Talks nya. Menurutnya, seseorang bisa menjadi sukses besar dalam pencapaian gol nya karena dia memiliki grit yang sangat besar.

 Ada beberapa cara untuk mengukur grit dalam diri kita, yaitu: 

a. Courage (Kebranian). Kebranian yang dimaksud adalah seberapa besar kemampuan kita mengontrol ketakutan atau kegagalan kita. 

b. Conscientiousness (kesadaran diri). Untuk mencapai kesadaran diri butuh fokus dan konsentrasi tingkat tinggi yang dapat menjadi faktor utama bagi kita dalam memutuskan tindakan dengan cepat dan sesuai kebutuhan. Seringkali pikiran kita terganggu dengan halhal lain yang tidak berhubungan tetapi sangat mengganggu. 

Contohnya trauma masa lalu, keluarga, keuangan, permasalahan di kantor dan lainnya. Salah satu cara untuk melatih kesadaran diri kita adalah dengan membaca buku dengan suara keras atau belajar menyanyikan lagu yang susah untuk dinyanyikan. 

c. Long-term goals and Endurance (Gol Jangka Panjang dan Ketahanan). Kita harus membuat gol dalam jangka panjang yang jelas dan spesifik. Bagi yang sudah memilikinya, apakah gol itu masih menarik untuk kita. Besarnya endurance (daya tahan) untuk tetap fokus tergantung dari seberapa konsisten Anda untuk berusaha dan melatih kemampuan diri. Angela Duckworth mengatakan bahwa pencapaian itu adalah hasil penggabungan antara talenta (skills) dan usaha. 

d. Resilience (Ketahanan). Ketahanan dapat dicapai dengan tiga faktor yaitu Optimis, Percaya Diri dan Kreativitas

e. Excellence vs Perfection (Mutu Tinggi vs Kesempurnaan). Kita harus menerima kekecewaan dan kegagalan karena dengan hal tersebut kita memiliki pengukuran pasti untuk prioritas strategi perbaikan ke arah yang lebih baik.


Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Grit 

Menurut Duckworth (2007) faktor-faktor yang berhubungan dengan kegigihan (grit) adalah sebagai berikut: 

a. Pendidikan, dimaknai sebagai orang yang telah berpendidikan yang memilki kegigihan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang kurang berpendidikan pada usia yang sama.

b. Usia, dimaknai dengan orang usia dewasa memiliki kegigihan yang lebih dengan orang berusia muda. Hal ini dikarenakan orang yang telah tua memiliki pengalaman untuk menghadapi tantangan.

c. Conscientiouness, yaitu berhubungan dengan pilihan untuk berpindah karir pada seseorang. Orang yang memiliki conscientiouness, usia dan pendidikan tinggi 35% lebih kecil kemungkinannya berpindah karir. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kegigihan meliputi pendidikan, usia dan konsitensi. 

d. Di dalam buku Grit (Angela Duckworth) diungkapkan contoh orang-orang penting dan yang telah sukses pada bidangnya, bagaimana mereka mengungkapkan proses untuk meraih sukses mereka sendiri, bagaimana mereka menciptakan potensi mereka, bagaimana mereka mempengaruhi sekaligus dipengaruhi sekitar untuk mengembangkan kemampuannya.  


Kesimpulannya, Grit diikuti dengan bekerja keras dalam menghadapi tantangan, mempertahankan usaha dan kepentingan jangka panjang meskipun dihadapkan pada resiko untuk gagal, tantangan, dan kesulitan pada prosesnya (Duckworth, 2016). Seorang dengan grit yang tinggi lebih berhasil dalam pekerjaan dibandingkan dengan yang memiliki grit rendah.  Individu dengan derajat grit yang tinggi akan lebih tekun dalam bekerja, tidak mudah menyerah jika mengalami kegagalan, bahkan dapat menjadikan kegagalan sebagai cambuk untuk semakin berusaha mencapai tujuan.





Sumber :

Jonathan, Haris dan Alvin Handiworo. 2020. "Tempat Pengembangan Grit", Jurnal Stupa. Vol.2, No. 2, Hal.2067-2078. 

Meadows Martin. 2015. "Grit: How to Keep Going When You Want to Give Up". Meadows Publishing.

Tiara, Stella dan Rostiana. 2018. "Peran Kualitas Kehidupan Dan Grit Terhadap Keterkaitan Kerja Pada Generasi Millenial Di Industri Perbankan". Jurnal Muara. Vol. 2, No, 1. Hal. 342-249. 


Selasa, 03 November 2020

INTERPERSONAL SKILL DALAM DUNIA KERJA

 

INTERPERSONAL SKILL


Interpersonal skill memiliki kaitan dengan aspek kehidupan sehari-hari termasuk setiap aktivitas dan kesuksesan bagi seorang individu dalam hal bermasyarakat ataupun bekerja. Dalam berkehidupan dan mengenali sesama diperilukan Interpersonal skill yang bisa saja diartikan keterampilan dasar yang harus dimiliki individu agar dapat berinteraksi dengan lancar. Maka dari itu disini saya akan membahas mengenai Interpersonal Skill yang dimiliki individu.

Apa itu interpersonal skill ?

interpersonal skill disebut juga dengan interpersonal touch, yang mana bidang ini menarik perhatian peneliti dan penulis dari berbagai disiplin ilmu. Gallace & Charles (2010) mengungkapkan bahwa penelitian terkait dengan interpersonal touch diminati oleh berbagai disiplin ilmu, contohnya cognitive and social psychology, neuroscience, and cultural anthropology.

Menurut Hayes (2002:5) interpersonal skill adalah goal-directed behaviour yang digunakan dalam in teraksi tatap muka, yang efektif dalam mewujudkan keadaan yang diinginkan.
Rungapadiachy (1999: 193) mengatakan bahwa interpersonal skill dapat didefinisikan sebagai suatu keterampilan yang diperlukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan seseorang atau kelompok orang.

Sedangkan taksonomi keterampilan interpersonal menurut Carpenter & Wisecarver, 2004 dan Klein et al., 2006 (dalam Lievens & Sackett, 2012: 461) dibedakan menjadi dua meta dimensi, yaitu:

1) membangun dan memelihara hubungan (misalnya; memberikan bantuan dan dukungan kepada   orang lain)

2) komunikasi atau pertukaran informasi (misalnya; memberikan informasi).

 Sementara itu, Daniel Goleman mengemukakan bahwa kemampuan interpersonal juga termasuk bagian dari emotional intelligence. Goleman menyatakan ada lima konstruk kecerdasan emosional, yaitu :

1. Kesadaran diri 

2. Mengelola Emosi 

3. Motivasi Diri 

4. Empati

5. Membina Hubungan

Kemampuan interpersonal atau membina hubungan adalah kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan ini meliputi kemampuan berempati, berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain, merundingkan pemecahan masalah, memimpin dan mengorganisasikan kelompok, membina dan menjalin hubungan, dan kemampuan bekerjasama. 

Istilah kemampuan interpersonal juga termasuk dalam soft skill, yaitu kemampuan mengatasi konflik, negosiasi, dan kerjasama yang penting dimiliki oleh setiap profesi dan jabatan (Goleman, 1995: 91)

Dapat diartikan pengertian dari Interpersonal Skill adalah  kemampuan seseorang secara efektif untuk berinteraksi dengan orang lain maupun dengan rekan kerja, seperti pendengar yang baik, menyampaikan pendapat secara jelas dan bekerja dalam satu tim. dan tentunya interpersonal skill sangat dibutuhkan dalam dunia kerja atau mencapai kesuksesa 

Peranan Penting Interpersonal Skill

Keterampilan interpersonal mempunyai peranan yang sangat penting guna mencari kesuksesan. Terkait dengan hal ini, ketrampilan skill dapat dibagi menjadi beberapa jenis. 

Pertama yaitu keterampilan mendengar (Listening) Komponen terpenting dari komunikasi adalah mendengar. Maksudnya adalah tidak hanya mendengar secara harfiah dengan alat pendengaran atau telinga saja, melainkan mampu mencerna serta menterjemahkan maksud dari pemberi pesan atau orang yang mengajaknya berbicara.

Keterampilan listening adalah Salah satu komponen dari proses komunikasi adalah bagian menerima pesan, salah satunya ialah mendengarkan. Mendengarkan bukan secara harfiah menggunakan alat pendengaran (telinga) , tetapi memiliki arti yang lebih luas dengan penggunaan alat penerimaan pesan lainnya. Berikut ini ada empat alasan utama mengapa orang perlu mendengarkan:

1. Untuk memahami dan memperoleh informasi, 

2.  Analisis terhadap kualitas Informasi, 

3. Membangun dan Memelihara Hubungan dan Menolong Orang Lain

Kedua adalah umpan balik atau providing feedback. Umpan balik merupakan suatu interpersonal skill dalam bentuk ketrampilan seseorang untuk memahami segala dampak atas perilaku terhadap diri sendiri dan orang lain. Misalnya ketika berbicara sesuatu akan membuat sakit hati atau sebaliknya bikin orang lain menjadi senang.

Ketiga adalah PersuadingDalam hal ini seseorang harus dapat memberikan pengertian atau bujukan pada orang lain. Sehingga orang tersebut bersedia mengikuti kehendak maupun keinginan dari orang yang mengajaknya secara sukarela. Keterampilan interpersonal yang terakhir disebut resolving conflict. Maksud dari istilah ini adalah kemampuan menyelesaikan masalah ketika sedang mendapatkan konflik dan masalah dengan orang lain.

Tips meningkatkan Interpersonal Skill : 

Tesenyum, Apresiasi, Simpati, Jadilah Penyemangat jangan jadi pengeluh, dan Tengahi konflik.


itulah beberapa bahasan mengenai Interpersonal Skill yang sangat mempengaruhi aktivitas dan kemampuan kinerja di tempat kerja guna mencapai kesuksesan. 








Sumber : 

Sakidah,Halimatus. 2015. "Urgensi Interpersonal Skill Dalam Dakwah Persuasif". Jurnal Alhadharah. Vol.14, No.27. Hal. 85-94.

Silvianetri.2019. "Interpersonal Skill Dalam Kajian Neurosains". Alfuad Journal. Vol. 3, No.1. Hal.74-81.



Strategi dan Kiat Perusahaan Menghadapi Pandemi C-19 di Bidang Pembinaan SDM

  STRATEGI DAN KIAT PERUSAHAAN MENGHADAPI PANDEMI C-19 DI BIDANG PEMBINAAN SDM  Saat pandemi covid-19 ini melanda negara indonesia, membuat ...